Ki Ageng Suryomentaram: Anak Raja yang Memilih Jadi Rakyat Jelata

Budaya Pemerintah Peristiwa Religi

Ki Ageng Suryomentaram: Anak Raja yang Memilih Jadi Rakyat Jelata :

Megapolitanjatim

Perjalanan singkat dari Yogyakarta ke Surakarta pada awal abad ke-20 itu telah membuka mata hati Pangeran Suryomentaram.

Di dalam gerbong kereta api, sang pangeran tertegun kala memandang ke luar, melihat para petani yang sedang bekerja di sawah.

Begitu sederhananya mereka, berbeda dengan kehidupan yang dijalaninya di istana selama ini.

Sekembalinya di keraton, Suryomentaram menjadi sering gelisah. Beberapa kali ia pergi untuk menenangkan diri.

Terkadang berziarah ke gua-gua yang dulu kerap dikunjungi leluhurnya, atau ke pantai selatan.

Di tempat-tempat sunyi itulah salah seorang anak kesayangan Sultan Hamengkubuwana VII (1877-1921) ini bermeditasi demi ketenteraman jiwanya yang terus saja bergejolak.

Hingga suatu hari, sang pangeran sudah tidak tahan lagi. Ia pergi meninggalkan istana dan berjalan sendirian, tanpa mengenakan pakaian yang menunjukkan bahwa ia seorang putra raja, hanya membawa bekal secukupnya.

Bernama kecil Raden Mas Kudiarmadji, Suryomentaram merupakan anak ke-55 Hamengkubuwana VII. Ia lahir di lingkungan keraton Yogyakarta pada 20 Mei 1892. Ibunya adalah salah satu istri selir raja, yakni Raden Ayu Retnomandojo, putri Patih Danureja VI.

Pangeran Suryomentaram memutuskan pergi tanpa pamit setelah permintaannya ditolak sang ayah.

Ia meminta agar diizinkan menanggalkan gelar pangeran, namun Hamengkubuwana VII tidak menyetujuinya.

Baca juga: Game of Thrones ala Kraton Jawa dan Yogyakarta

Setelah Suryomentaram pergi, barulah Raja Yogyakarta itu menyesal.

Hamengkubuwana VII kemudian mengutus beberapa orang kepercayaannya untuk mencari di mana keberadaan sang putra kesayangan itu.

Sampai pada suatu ketika, salah seorang utusan raja melihat sosok yang mirip dengan pangeran yang sedang dicari-cari.

Namun, orang itu sangat kumal laiknya rakyat miskin kebanyakan, sedang bersama-sama kuli lainnya menggali sumur di suatu desa kecil di wilayah sebelah barat Yogyakarta.

Sang utusan raja memberanikan bertanya kepada orang itu, menanyakan namanya.

Dijawab bahwa ia bernama Natadangsa.

Mendengar suara yang ditanya, utusan raja itu semakin yakin bahwa Natadangsa tidak lain adalah Pangeran Suryomentaram.

Maka, dengan hormat, Natadangsa dimohon pulang ke istana karena telah membuat ayahanda dan ibundanya khawatir.

Lantaran kedoknya terbongkar, Natadangsa terpaksa menurut, dan mengikuti utusan itu kembali ke Kasultanan Yogyakarta.

Natadangsa alias Suryomentaram hidup serabutan selama masa pengembaraan itu. Selain terkadang menjadi kuli, ia juga bekerja apa saja untuk sekadar bertahan hidup. Jualan batik dan buruh tani pernah dilakoninya.

Di istana, ia lagi-lagi tidak betah karena merasa tidak cocok dengan kehidupan mewah sebagai anak raja.

Cobaan bagi Suryomentaram bertambah setelah sultan menceraikan ibundanya dan membebastugaskan kakeknya, Patih Danureja VI, disusul dengan kematian istrinya.

Namun, demi menghormati sang ayah, Suryomentaram sebisa mungkin bertahan.

Hamengkubuwana VII—yang sebenarnya sudah turun takhta sejak 29 Januari 1921—wafat pada 30 Desember 1931. Dituliskan oleh Prof. Dr. dr. Daldiyono (2014) dalam buku Ilmu Slamet, Suryomentaram turut mengusung jenazah sang ayah, namun tidak mau mengenakan pakaian kebesaran pangeran, melainkan memakai baju lusuh, bahkan bertambal-sulam (hlm. 18).

Dalam perjalanan pulang dari pemakaman, Suryomentaram memisahkan diri dari rombongan dan singgah di sebuah warung. Ia memesan pecel, makan dan duduk lesehan bersama rakyat jelata.

Sontak, kelakuan itu membuat para pangeran lainnya merasa malu. Mereka bahkan menyebut Suryomentaram sudah gila.

Setelah ayahandanya meninggal dunia, Suryomentaram memohon kepada saudara tirinya yang sudah bertakhta menjadi raja, Hamengkubuwana VIII (1921-1939), agar diizinkan meninggalkan istana.

Suryomentaram merasa “tidak pernah bertemu orang” selama hidup di lingkungan istana.

Orang yang ia maksud adalah rakyat yang sebenarnya, orang-orang yang harus bekerja keras untuk menghidupi keluarga, orang-orang yang hidup sederhana dan apa adanya.

Oleh Hamengkubuwana VIII, permohonan Suryomentaram dikabulkan. Bahkan, pemerintah kolonial Hindia Belanda memberinya uang pensiun lantaran berstatus sebagai pangeran.

Namun, uang tersebut ditolak Suryomentaram karena ia merasa tidak pernah bekerja untuk pemerintah kolonial.

Sebelum pergi, Suryomentaram menjual seluruh harta benda yang dimilikinya. Uang hasil penjualan mobil diberikan kepada sopirnya, sedangkan hasil penjualan kuda diberikan kepada abdi dalem yang selama ini merawat kuda tersebut (hlm. 19).

Dengan berbekal uang secukupnya, Suryomentaram meninggalkan keraton untuk keduakalinya, barangkali ini untuk selama-lamanya karena ia memang tidak pernah berniat kembali ke istana.

Gelar pangeran pun kini benar-benar ditinggalkan, ia mengganti namanya menjadi Ki Ageng Suryomentaram.

Suryomentaram berjalan jauh menuju ke utara, dan membeli sebidang tanah di Desa Beringin, Salatiga.

Di sana, ia hidup dengan bercocok tanam sebagai petani, bergaul dengan rakyat jelata, menjalani kehidupan sebagai orang biasa.

Meskipun mengasingkan diri, Suryomentaram tetap menjalin relasi dengan beberapa pangeran yang memilih menepi seperti dirinya, termasuk Ki Hajar Dewantara, Ki Sutapa Wanabaya, Ki Prana Widagdo, Ki Prawira Wirawa, Ki Suryadirja, Ki Sujatmo, Ki Subono, dan Ki Suryaputra. Mereka membentuk perkumpulan dan menggelar sarasehan rutin setiap malam Selasa Kliwon.

Masing-masing tokoh ini punya tugas sesuai spesialisasinya. Ki Hajar, misalnya, seperti dicatat Abdurrachman Surjomihardjo dalam Ki Hajar Dewantara dan Taman Siswa dalam Sejarah Indonesia Modern (1986), memperoleh bagian di bidang pengajaran, dengan mendidik anak-anak muda yang ikut dalam sarasehan tersebut.

Pangeran dari Kadipaten Pakualaman bernama asli Soewardi Soerjaningrat ini adalah pendiri Perguruan Taman Siswa.

Suryomentaram tertarik mempelajari ilmu jiwa atau psikologi. Ia mencurahkan daya dan perhatiannya untuk menyelidiki alam kejiwaan manusia dengan menggunakan dirinya sebagai kelinci percobaan, demikian menurut J.B. Adimassana dalam Ki Ageng Suryomentaram tentang Citra Manusia (1986: 23).

Adimassana menambahkan, pemahaman Suryomentaram tentang manusia seluruhnya bertitik tolak dari pengamatannya terhadap diri sendiri. Ia merasakan, menggagas dan menginginkan sesuatu, menandai adanya gerak kehidupan di dalam batin manusia.

Suryomentaram mencoba membuka rahasia kejiwaan manusia yang dilihatnya sebagai sumber yang menentukan perilaku manusia dalam hidupnya.

Dari eksperimen tersebut, Suryomentaram menyimpulkan bahwa manusia tidak bisa melepaskan diri dari dunia yang melingkupinya. Manusia selalu bergaul dengan lingkungan di sekitarnya dan selalu terkait dengan itu, yang kemudian menunjukkan perilaku manusia tersebut.

Alasan itulah yang membuat Suryomentaram sungguh-sungguh mantap keluar dari istana, dari lingkungan keraton yang bermewah-mewahan.

Ia ingin bersatu dengan alam dan kehidupan manusia yang sebenar-benarnya sehingga antara dirinya dengan lingkungan yang melingkupinya bisa tercipta keselarasan, baik lahir maupun batin.

Suryomentaram, seperti yang tertulis dalam Puncak Makrifat Jawa: Pengembaraan Batin Ki Ageng Suryomentaram (2012) karya Muhaji Fikriono, sangat yakin bahwa untuk memahami manusia yang universal cukup dengan mengamati dan menyadari rasa yang ada pada diri sendiri.

Apa yang didalami Suryomentaram itu dikenal dengan istilah kawruh jiwa atau kawruh begja (ilmu bahagia).

Menurut Abdul Kholik & Fathul Himam dalam

“Konsep Psikoterapi Kawruh Jiwa Ki Ageng Suryomentaram” yang dimuat di Gadjah Mada Journal of Psychology (Mei 2015), ia menjadikan metode itu sebagai perangkat analisis olah rasa untuk mengembangkan kualitas hidup dengan landasan introspeksi diri (hlm. 122).

Meskipun mendalami ilmu kebatinan, Suryomentaram menghindari unsur mistik atau klenik, ia berangkat dari hal-hal yang nyata dan ilmiah.

Oleh karena itu, Suryomentaram memilih memakai kata kawruh yang lebih rasional daripada kata ngelmu yang lekat dengan konteks mistis.

Rasa bahagia, bagi Suryomentaram, berasal dari diri manusia itu sendiri. Ada tiga unsur utama yang ada dan kekal dalam diri manusia, yang oleh Suryomentaram disebut sebagai “Zat, Kehendak, dan Aku”.

Ketiga unsur ini merupakan asal dari segala sesuatu.

“Zat itu ada, tidak merasa apa-apa dan tidak merasa ada.

Kehendak itu ada, merasa apa-apa, dan tidak merasa ada. Aku itu ada, tidak merasa apa-apa, dan merasa ada,” demikian rumusan bahagia ala Ki Ageng Suryomentaram, seperti dikutip dari Al-Ikhlash: Bersihkan Iman dengan Surah Kemurnian (2008: 176) karya Achmad Chodjim.

Suryomentaram menebarkan apa yang dipelajarinya dengan memberikan ceramah di berbagai tempat. Bahkan, ia pernah diundang Presiden Sukarno ke Istana Merdeka Jakarta pada 1957.

Kepada Suryomentaram yang menghadap dengan pakaian sederhana, Bung Karno meminta nasihat dalam mengelola negara.

Sebelum wafat pada 18 Maret 1962, tepat hari ini 57 tahun lalu, Suryomentaram telah menghasilkan sejumlah karya yang ditulis dalam bahasa Jawa, seperti Pangawikan Pribadi, Kawruh Pamomong, Piageming Gesang, Ilmu Jiwa, Aku Iki Wong Apa, dan lainnya.

Ajaran kebahagiaan Suryomentaram hingga kini terus dipelajari dan diterapkan oleh komunitas budaya yang tersebar di sejumlah tempat di Jawa.

(DA/SOF)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *